Kita masuk lagi ke perbincangan tiada akhir, Guru Pahlawan Tanda Tanda Jasa.
Saya merasa senang dengan sebutan itu. Sementara para guru hanya ingin mendapat perlindungan dan kesejahteraannya dinaikan. Pemerintah lewat Mendikbud Abdul Mu’ti berjanji akan memperhatikan kesejahteraan guru.
Ikuti lebih lanjut sambil ditemani kalau bisa kopi hangat dan cemilan bebas karbohidrat.
Sore ini, Nopember 2025 udara Tangerang agak sejuk. Awan sedikit mendung pertanda akan turun hujan. Awan menggantung di atas danau buatan dekat tempat tinggal saya. Di seberang danau berdiri sebuah sekolah.
Di satu pagi diihari Jum’at saya pernah melewati sekolah itu sambil jalan kaki yang biasa saya lakukan setiap hari.
Dari luar halaman sekolah terdengar suara guru memberikan wejangan kepada murid-murid yang hadir. Suara merdu tanpa beban. Lewat speaker yang tertangkap oleh telinga, guru ingin agar muridnya bertagwa, berguna bagi nusa bangsa dan agama. Harapan mulya yang sering saya dengar dari para ustadz di kampung kami. Kebetulan hari itu hari Jum’at. Hari pembinaan rohani yang biasa dijadwalkan di sekolah.
Saya yang mantan guru, pernah melakukan hal sama. Tampil percaya diri terlihat wibawa di depan murid dan seolah tanpa beban, seperti Pak Harfan dalam film Laskar Pelangi.
“Yang harus kalian ingat anak-anakku, jangan pernah menyerah. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. Dan jangan menerima sebanyak-banyaknya”, begitu kalau pak Harfan berbicara di depan murid-murid. Hal yang sama dilakukan oleh saya dan para guru pada umumnya.
Setelah pulang, sampai di rumah kehidupan nyata pun tiba. Ada banyak tagihan yang harus diselesaikan. Cicilan rumah, cicilan kendaraan, biaya sekolah, belanja dapur, arisan, undangan hajatan, kirim uang ke orang tua di kampung, dan jajan anak yang tak pernah kompromi. Semua harus di tanggungjawabi. Sementara gaji sudah dipotong oleh bank. Karena selama saya jadi guru, SK saya gadaikan. Di kalangan para guru sering ada celetukan, “ngajarnya di sekolah, SKnya di bank”.
Bisa dibayangkan bagaimana usaha guru untuk memenuhi kebutuhan. Beban mengajar yang tak bisa dihindari masih harus memikirkan ” tetek bengek ” dengan segala keterbatasannya.
Bandingkan dengan guru di luar sana. Katanya guru di Polandia mendapat gaji di atas rata-rata profesi yang lain. Dasar pemikiran orang Polandia, anak-anak yang setiap hari melihat gurunya bahagia, dihargai, dan hadir sepenuhnya di kelas, akan tumbuh rasa aman dan percaya pada dunia.
Kata almarhum Suyatmo, di Indonesia guru seperti garam.”Diperlukan setiap hari, tapi harganya murah”.katanya.
Bahkan ada yang lebih menggelitik adalah seperti yang disampaikan oleh Tabrani waktu menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang. Kata Tabrani, guru itu seperti pedupaan*, dicari waktu diperlukan, setelah selesai buat bakar menyan ditendang pakai kaki ke kolom tempat tidur.
Apapun gelar yang disandang oleh guru, gelar guru sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” adalah yang paling populer.
Jika ditanyakan kepada para guru, “Perlukah guru mendapat sebutan sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?.
Guru pun terbelah dua. Sebagian menjawab
” Tidak perlu!” Nada suaranya kompak seperti sedang latihan paduan buat Hari Guru Tahun 2025.
Sebagian yang lain, menjadi guru hanya status karena masih ada pemasukan dari usaha di luar profesi guru. Mereka menjawab “Setuju! “.
Namun dari balik ” perpecahan ” itu, muncullah suara yang tenang tapi tajam, Surno. Guru SMP di kota Tangerang. Guru ini tampil bukan sebagai tokoh drama, melainkan sebagai guru yang benar-benar guru sejati. “Betara Guru,” dalam dunia pewayangan.
“Kalau sudah teken kontrak jadi guru, harus berani ambil resiko.tidak boleh mengeluh. Menuntut kesejahteraan sah-sah saja, tetapi jangan sampai meninggalkan kelas”.
Sebuah kalimat yang lembut buat seluruh pemangku jabatan bidang pendidikan.
Kisah belum selesai kalau kesejahteraan belum menjadi prioritas.
ang saya rasakan selama menjadi guru, janji-janji pejabat untuk menaikkan gaji guru sering terdengar. Kenaikan gaji memang iya. Kenaikan itu terjadi seiring dengan kenaikan pangkat dan kenaikan gaji bersama dengan pegawai lain. Kenaikan gaji yang diterima pun tergerus oleh inflasi.
Hari ini adalah Hari Pahlawan, bertepatan dengan bulan guru. Bulan Nopember.
Perlukah bagi guru disebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
Berikan komentar
Foto Ai hanya ilustrasi
Trima
Praktisi Pendidikan
Wartawan
*tempat untuk membakar menyan






